It's my life....

Education,Passion, Music, :)

Sabtu, 02 Maret 2013

Jembatan Masa Depan



Bagaimanakah kabar jembatan rusak saat ini? Mengapa berita tersebut seakan lenyap dan tak terjamah lagi oleh khalayak ramai?. Faktanya, sampai saat ini belum ada tindakan yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut. Buktinya, jembatan masih tetap bertahan dengan kondisinya yang sangat memprihatinkan. Pengalihan isu ke berbagai topik merupakan salah satu hal yang melatarbelakangi mengapa jembatan tersebut tak lagi jadi sorotan penting bagi Indonesia. Seperti biasa pemerintah kita memang selalu disibukkan dengan urusan politik sehingga lupa akan kewajibannya kepada rakyat. Atau mungkin memang tingkat kepedulian mereka yang rendah. Mereka seakan mendengar tetapi tak mau tahu dengan apa yang terjadi. Ironis memang. Kepercayaan rakyat semakin luntur akibat sikap sewenang-wenang pemimpinnya. Inikah kesejahteraan rakyat yang mereka janjikan? yaitu “membuat rakyat menderita”.
Beberapa waktu lalu jembatan penyeberangan sungai di beberapa daerah seperti Banten, Ciampea, dan Bogor putus akibat bencana alam. Hal ini tentu berdampak pada sektor perekonomian dan  pendidikan penduduk sekitar. Benar saja, untuk mencari nafkah penduduk harus menyeberangi derasnya sungai dengan getek atau perahu karet seadanya. Namun, jika tak memadai mereka harus melawan derasnya air sungai dengan berbagai resiko yang mungkin akan muncul. Hal serupa juga terjadi pada anak-anak sekolah. Setiap pagi mereka harus menerjang maut demi meniti masa depan yang mereka impikan. Pilu memang menyaksikan kejadian tersebut. Sementara di luar sana pembangunan besar-besaran kian marak diperbincangkan. Tak salah rasanya rakyat meminta haknya akan kesejahteraan yang layak, terutama pendidikan. Apapun mereka lakukan dengan harapan dapat merubah bangsa ini lebih baik lagi. Akan tetapi semua itu tak akan terwujud bila pemimpin bangsa tak mampu mengayomi rakyatnya.
Fakta baru muncul bahwa sebenarnya pemerintah telah mengirimkan bantuan bagi proses pembangunan jembatan di beberapa daerah. Tapi nampaknya hal itu akan percuma saja bila pembangunan pun tak kunjung dilakukan. Air hujan yang turun justru membuat pasir dan bahan-bahan lainnya terkikis oleh air. Tentu saja hal ini sangat merugikan anggaran dana Negara yang sudah dikeluarkan untuk pembangunan jembatan tersebut. Fakta lain yang tidak kalah mengejutkan bahwa sebenarnya pemerintah pusat telah memberikan kucuran dana tunai kepada pemerintah daerah untuk diadakannya perbaikan jembatan. Akan tetapi entah mengapa pembangunan tak juga berlangsung. Jadi kemanakah uang tunai tersebut?. Semua orang tentu akan berpendapat bahwa dana tersebut sudah lebih dulu dihabiskan oleh oknum tak bertanggungjawab. Hal ini adalah salah satu cuplikan tidak adanya kerjasama yang baik antara pemerintah pusat dan daerah dalam membangun bangsa.
Masalah ini seakan dianggap sederhana oleh pemerintah dan sebagian dari kita. Memang masalahnya hanya sebatas perbaikan sejumlah jembatan. Tetapi pernahkah kita berpikir bahwa melalui jembatan itu rakyat memperoleh pendapatan yang bahkan kurang dari cukup?. Derasnya air tak menjadi masalah bagi mereka, yang jelas mereka dapat mencari makan demi mempertahankan hidupnya. Apakah tak pernah terpikirkan oleh kita bahwa jembatan itu akan melahirkan generasi penerus yang akan melanjutkan perjalanan bangsa ini?. Satu hal yang kita harus tahu bahwa impian dan cita-cita mereka adalah harapan untuk membangun bangsa. Dimanakah naluri kita ketika melihat perjuangan keras mereka dalam meraih harapan?. Sedangkan pemimpin Negara hanya asik-asikkan tidur ketika rapat paripurna berlangsung. Pada dasarnya pemimpin rakyat dibentuk untuk menampung aspirasi dan meningkatkan kesejahtraan rakyat. Bukan hanya membuat mereka sengsara dan seakan tak memiliki hak untuk mendapatkan sesuatu yang layak.
Sebagai seorang pemimpin, pemerintah harus mampu melakukan kewajibannya sebagai wakil rakyat. Turut andil dalam mengayomi rakyatnya adalah suatu hal yang lumrah untuk dilakukan. Seharusnya mereka dapat merealisasikan apa yang telah mereka janjikan kepada rakyat. Tampaknya anggaran negara tidak akan habis untuk memperbaiki jembatan–jembatan itu. Bukankah uang Negara adalah uang rakyat dan untuk rakyat?. Bersikap lebih transparan dan terbuka juga kunci yang sangat penting bagi pemerintah kita untuk mengembalikan kepercayaan rakyat yang kini semakin luntur.  Rasa peduli dan peka dengan apa yang dirasakan oleh rakyat juga hal yang sangat penting dimiliki oleh pemerintah. Satu hal lagi yang tak kalah pentingnya adalah ketika Pemimpin Negara, Pemerintah dan jajarannya, serta rakyat mampu bersatu padu membangun Indonesia yang lebih maju.

Pendidikan Sebagai Jati Diri Bangsa



Prihatin adalah kata yang tepat untuk meggambarkan kondisi pendidikan Indonesia saat ini. Harga yang tak terjangkau, penyelenggaraan yang kurang baik, dan lulusan yang berkualitas buruk memperlihatkan betapa bobroknya pendidikan bangsa ini. Padahal pendidikan adalah roda penggerak yang sangat penting dalam memajukan suatu bangsa. Melalui Pendidikan jati diri sebuah bangsa dipertaruhkan. Negara yang memiliki kualitas pendidikan yang baik tentu akan dihargai. Sedangkan Negara dengan kualitas pendidikan yang buruk tentu akan dipandang sebelah mata. Terwujudnya pendidikan yang baik bukanlah sebuah impian bagi Indonesia. Jika semua orang peduli dan mau berusaha untuk membenahi pendidikan saat ini tentu harapan itu akan terlaksana.
                 Jika kita ulas balik kebelakang, pendidikan Indonesia dahulu tidaklah seburuk kini. Dahulu Indonesia pernah merasakan kejayaannya di dunia pendidikan. Hal ini tak lain berkat kerja keras seorang pelopor pendidikan yaitu Ki Hajar Dewantara. Beliau berjuang keras untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Kegigihan dan kerja kerasnya telah berhasil meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia saat itu. Namun sekarang perjuangannya seakan sia-sia. Potret kelam pendidikan kini telah melunturkan harapan dan cita-cita yang telah ia bangun. Entah apa yang akan ia katakan melihat Pendidikan Indonesia sekarang. Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani hanya tegak berdiri sebagai sebuah semboyan tanpa adanya wujud nyata pelaksanaan yang baik. 

Masalah Pendidikan
                Menuntut ilmu seakan mimpi bagi anak miskin. Seperti kata buku, “Orang Miskin Dilarang Sekolah!” Inilah kenyataan pilu yang kini kita hadapi. Bagaimana tidak, harga yang mahal membuat mereka  harus berpikir dua kali untuk mengenyam pendidikan. Tak heran memang jika anak yang  terlantar semakin bertambah di Indonesia. Kapitalisme dunia pendidikan kini seakan merenggut cita dan harapan generasi penerus bangsa.  Mereka seakan tak layak mengecap indahnya dunia pendidikan. Padahal sadar atau tidak masa depan bangsa ini berada di tangan mereka.
                Begitu banyak orangtua yang mengeluhkan masalah ini, namun kenyataannya mereka berada pada posisi yang sangat lemah. Mereka seakan tidak dihargai, padahal mereka memiliki hak atas semua itu. Hal ini didasarkan pada UUD 1945 pasal 31 ayat 1 yang menyatakan bahwa setiap Warga Negara berhak mendapatkan pendidikan. Namun yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah masih berlakukah Undang Undang tersebut? Karena yang terekam kini hanyalah pengekangan terhadap hak warga miskin di segala aspek.
                Pendidikan bukan hanya melulu mengenai bayaran atau uang. Pendidikan adalah mengenai bagaimana mencetak generasi yang pintar dan bermartabat.  Bukan berarti uang tidak penting dalam sebuah proses pendidikan. Namun juga bukan berarti hal ini yang mendominasi pendidikan. Sebab pada dasarnya uang tidak dapat mengukur kemampuan apalagi membatasi mimpi seseorang.
Karakter buruk siswa pun menjadi masalah pendidikan Indonesia saat ini. Karakter itu tak lain adalah budaya mencontek. Hal ini memang selalu mewarnai belantika pendidikan Indonesia.  Takut dianggap bodoh, takut tak lulus ujian, dan malas remedial menjadi hal yang melatarbelakangi kejadian ini. Akhirnya murid pun berbondong-bondong menempuh segala cara untuk memperoleh hasil yang maksimal.
Karakter ini tentu mencoreng citra pendidikan Indonesia. Sekolah yang seharusnya sebagai tempat proses belajar tak ubahnya tempat mengejar nilai. Proses belajar kini dianggap tak penting. Semuanya seakan berorientasi pada nilai. Bukan berarti nilai tidak penting. Namun alangkah baiknya jika nilai itu mewakili proses belajar yang telah mereka lakukan selama ini.
Inilah mengapa pentingnya menciptakan siswa yang bermartabat, yang tak hanya cerdas namun juga jujur. Sebab pada umumnya proses belajarlah yang menentukan nilai siswa bukan nilai yang menentukan sejauh mana proses belajar mereka. Peran guru tentu sangat menentukan terwujudnya proses ini. Sebagai seorang guru mereka harus mampu menilai siswa secara objektif yaitu tidak hanya melihat nilai yang mereka dapatkan melainkan mampu melihat proses belajar yang sudah mereka jalani.
Hal pahit lain yang kini harus kita telan adalah turunnya peringkat kualitas pendidikan Indonesia di dunia. Data  Education Development Index menyatakan bahwa  kini pendidikan  Indonesia turun pada peringkat 69 yang sebelumnya sempat menduduki peringkat 65. Fantastis bukan. Semakin merosot dan memprihatinkan.
Tak hanya itu lulusan yang berkualitas buruk juga merupakan masalah yang serius. Tak heran jika hal tersebut meyebabkan bertambahnya pengangguran di Indonesia. Pemerintah tentu harus memutar otak untuk membenahi masalah ini. Sebab jika tidak, dikhawatirkan bangsa ini akan hancur karena rendahnya kualitas generasi penerus. 

Bangkitkan Pendidikan Bangsa       
Siapa yang tak mengenal Ki Hajar Dewantara, salah satu tokoh perjuangan pendidikan nasional. Beliau selalu menjadi simbol pendidikan bangsa namun kini semangatnya seakan hilang ditelan zaman.
                Perjuangan yang keras dan mulia telah mengantarkan Indonesia pada kemerdekaan. Dulu Indonesia menjadi Negara yang sangat terbelakang dan dilanda kebodohan. Namun pergerakan pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara telah meningkatkan kualitas anak bangsa ke arah yang lebih baik.
                Terbukti sudah. Sekarang Indonesia telah merdeka. Indonesia bukan lagi Negara yang bisa dipandang sebelah mata.  Kini, Indonesia mampu berdiri tegak dan memandang lurus ke depan. Layaknya burung, Indonesia seakan tengah bersiap untuk terbang ke angkasa.
Tapi pertanyaannya sekarang, apakah kita sudah sepenuhnya merdeka? Apakah semangat dan perjuangan pelopor pendidikan kita itu masih terjaga? Nyatanya kini kemerdekaan belum membuat bangsa ini maju. Kualitas pendidikan Indonesia justru semakin menurun. Mengapa pendidikan kita jadi tertinggal dan semakin bobrok? Bukankah dulu kita pernah berjaya hingga Negara Jiran pun menyewa tenaga pendidik dari Negara kita?
Potret pendidikan yang kini kita lihat tidaklah seindah dulu. Sekarang pandangan yang justru hadir tak lain adalah kapitalisme pendidikan, karakter siswa yang buruk, kualitas pendidikan yang menurun, anak miskin terlantar, hingga pengangguran yang semakin bertambah. Ini menjadi refleksi dan Pekerjaan Rumah yang besar bagi bangsa Indonesia. Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat tentu sangat dibutuhkan untuk membenahi masalah tersebut.
Perubahan ke arah yang lebih baik tentu menjadi harapan seluruh rakyat Indonesia. Namun harapan ini tentu takkan terwujud tanpa adanya tindakan konkret dalam membangkitkan pendidikan bangsa. Layaknya Ki Hajar Dewantara, ia tak pernah membiarkan pendidikan Indonesia jalan di tempat, tetapi ia selalu berusaha untuk mengembangkan pendidikan. Oleh sebab itu mulailah membangun pendidikan bangsa yang bermartabat demi memajukan kesejahteraan bangsa. Dengan begitu melalui pendidikan, jati diri bangsa ini akan tercitra baik di mata dunia.

3 Tahun ≠ 4 hari


Ujian Nasional yang sering disingkat UN tak ayalnya “monster” yang sangat mengerikan bagi siswa. Bagaimana tidak, kehadirannya seakan-akan menjadi penentu masa depan mereka. Ibarat medan perang, yang berhasil tentu mereka yang mampu bertahan dan memiliki strategi jitu. Sebaliknya, mereka yang tak mampu bertahan akan jatuh dan tersisih dari yang lain. Ironis memang. Perjuangan mereka selama 3 tahun hanya ditentukan selama 4 hari. Hal ini tentu tak adil bagi seluruh siswa. Cucuran keringat dan rasa lelah mereka seakan tak dibalas dengan harga yang setimpal. Jadi, layakkah UN dilakukan?
          Setiap tahun penyelenggaraan UN selalu menimbulkan kontroversi. Sebagian dari mayarakat setuju dengan penyelenggaraan kegiatan tersebut. Namun tak sedikit juga dari mereka yang menolak keras hal ini. Penyelenggaraan kegiatan ini selalu menjadi perdebatan hangat dalam kalangan masyarakat. Banyak dari mereka yang menganggap bahwa kelulusan siswa tidak dapat ditentukan melalui tes sesingkat itu. Sebab yang lebih mengetahui kemampuan siswa adalah pihak sekolah sendiri. Menentukan kualitas boleh saja, tapi bukan berarti sebagai penentu kelulusan mereka.
          Penyelenggaraan UN ini melahirkan beragam dampak bagi siswa, diantaranya orientasi nilai yang berlebihan, ketidaksiapan mental, dan hilangnya fungsi sekolah. Hal ini tentu melunturkan fungsi penyelenggaraan Ujian Nasional yang sesungguhnya. Seharusnya kita menyadari bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting dan krusial. Sebaiknya pendidikan diwarnai dengan hal yang positif, bukan malah akibat buruk yang justru dapat menodai citra pendidikan.

Orientasi Nilai yang Berlebihan
          Setiap orang tentu ingin menjadi yang terbaik. Begitupun dengan siswa pada umumnya. Berhasil mengukir prestasi adalah harapan mereka. Perjuangan keras dalam belajar tentu membuat mereka bertekad untuk memperoleh nilai terbaik tatkala UN berlangsung. Akhirnya berbagai cara mereka lakukan demi meraih nilai tersebut. Mulai dari menyontek ketika ujian berlangsung hingga membeli kunci jawaban dari para calo. Potret yang sungguh memilukan. UN membuat mereka menggila dengan nilai yang tinggi.
          Kecurangan dalam Ujian Nasional setiap tahunnya memang selalu terjadi. Kebanyakan siswa beranggapan bahwa UN hanyalah tentang nilai semata. Waktu 4 hari mereka gunakan untuk memutar otak tentang bagaimana caranya agar lulus dengan nilai yang maksimal. Bukan berarti nilai tidak penting. Namun alangkah pentingnya jika nilai tersebut mewakili proses belajar mereka selama ini. Jika ini terus terjadi, lalu apa manfaat dilakukannya Ujian Nasional? Evaluasi terhadap kualitas pendidikan bangsa-kah atau hanya sekedar mengetahui pencapaian nilai peserta didik?

Ketidaksiapan Mental
          Setiap siswa memiliki sikap mental yang berbeda-beda. Ada yang menganggap Ujian Nasional sebagai hal yang biasa namun banyak juga siswa yang mengalami ketakutan ketika ujian nasional berlangsung. Hal ini tentu akan menimbulkan beberapa akibat, salah satunya yaitu penekanan berlebihan pada persiapan tes. Inilah yang membuat siswa semakin frustasi dengan penyelenggaraan Ujian Nasional. Tak heran memang, jika 4 hari tersebut mereka anggap sebagai hari penyiksaan bagi mereka. Tak hanya secara fisik namun juga mental.  Orientasi terhadap nilai tentu membuat mereka semakin takut jika mereka tidak bisa lulus.
Ketakutan yang dialami tentu akan mengganggu mental dan psikologis mereka. Psikologis seperti ini tentu akan mempengaruhi keadaan siswa saat melaksanakan ujian yang tentunya akan berdampak pada hasil ujian. Alangkah baiknya jika pemerintah dapat memperhatikan hal ini, karena keadaan psikologis semua siswa tidaklah sama tetapi bervariasi.

Hilangnya fungsi Sekolah
Sebagian besar berpendapat bahwa Ujian Nasional bisa membuat siswa rajin belajar, guru rajin mengajar, dan orangtua memperhatikan proses pembelajaran anak. Dalam konteks ini seharusnya pemerintah menyadari bahwa hal itu terjadi semata-mata untuk memperoleh nilai tinggi dan lulus ujian.
          Potret pendidikan Indonesia ini seakan menunjukkan bahwa sekolah telah beralih fungsi. Bukan lagi sebagai tempat mencari ilmu namun sebagai tempat mencari nilai. Hal ini tentu sangat berbahaya. Sebab sekolah tak lagi melahirkan siswa yang bermartabat. Namun melahirkan siswa yang rusak dengan berbagai karakter buruk.
          Seharusnya pemerintah sadar bahwa menerapkan hasil Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan siswa adalah hal yang tak adil. Perjuangan mereka selama tiga tahun tentu tak dapat dibayar dengan berbagai soal yang hanya dilakukan dalam waktu singkat.  3 tahun tentu tidak sebanding dengan 4 hari. Jika Ujian Nasional hanya dijadikan sebagai evaluasi kualitas bangsa itu adalah hal yang  sangat wajar. Namun jika dijadikan sebagai penentu kelulusan siswa itu bukanlah hal yang tepat. Karena pada dasarnya yang mengetahui kompetensi dan kemampuan siswa bukanlah pemerintah namun guru dan sekolah itu sendiri.

_Cerita Imajinatif_



Kambing yang Sederhana tapi Bersahaja
             
            Pagi ini begitu cerah tak seperti pagi biasanya. Matahari tampak lebih bersinar dan angin pun seakan menyapa apapun yang ada disekitarnya. Sawah dan pepohonan juga seakan tersenyum mewakili kebahagiaan hari ini. Sementara itu di dalam rumah yang sederhana telah terjadi perbincangan yang begitu hangat.
    
     “Hari ini kambing kita genap berumur 2 tahun pak, aku ingin menghadiahkannya sesuatu” kata bu tani kepada suaminya. “Ibu mau ngasih apa toh bu, wong dia cuma hewan biasa” jawab pak tani. “Dia kan hewan peliharaan pertama kita pak, kita sudah mengurus dan merawat dia sejak kecil. Setidaknya dia sudah menambah suasana dalam keluarga kita yang sepi ini tanpa kehadiran seorang anak” kata bu tani. Pak tani yang tak tega melihat kesedihan istrinya pun segera mencoba menenangkannya. “Sudahlah bu tak usah dibahas lagi tentang itu. Toh sekarang kita juga bisa hidup bahagia kan? walaupun bersama seekor kambing.” jawab pak tani. “Iya pak”seru bu tani. “Oh ya bagaimana jika kita hadiahkan kambing kesayangan kita itu sebuah kalung berwarna biru dan bertuliskan angka 2. Harapannya semoga diumurnya yang kedua ini ia semakin sehat dan selalu menambah suasana yang berwarna bagi keluarga kita” usul pak tani. “Ide yang bagus pak, sekaligus biar dia tidak tertukar dengan kambing tetangga hahhaha…, ehhhmm tapi bagaimana membuatnya?” Tanya bu tani. “Tenang saja bu, apa gunanya suamimu yang serba bisa ini, serahkan semuanya padaku” seru pak tani. Selagi menunggu bapak membuatkan kalung, lebih baik ibu memasak makanan yang lezat sana di dapur” tambah pak tani. “Siap pak” bu tani pun bergegas ke dapur untuk memasak. 

        Sementara itu bapak mulai membuat kalung dengan peralatan yang telah disiapkan sebelumnya. Hari ini mereka memang sengaja tidak pergi ke sawah untuk merayakan hari ulang tahun kambingnya. 

           Kambing ini memang menjadi binatang peliharaan yang sangat spesial bagi pak tani dan bu tani. Bukan hanya karena kambing ini adalah binatang peliharaan mereka yang pertama, namun sikapnya yang penurut juga menjadi nilai tambah bagi pak tani dan bu tani. Setiap kali sore menjelang ia tak pernah membantah atau menolak ajakan pak tani untuk kembali ke kandangnya. Di pagi hari ia juga sering membantu pak tani dan bu tani menggemburkan tanah sawah yang akan ditanami padi. Tak hanya dengan keluarga pak tani, ia juga akrab dengan binatang lainnya, seperti burung elang, kerbau, anjing, kancil, dan binatang lainnya. Orang-orangan sawah pun seakan menjadi saksi bisu dari kebaikan kambing tersebut. Ia juga binatang yang baik hati dan tidak sombong walaupun ia mendapatkan perlakuan istimewa dari keluarga pak tani. 


        Setelah beberapa menit kemudian kalung pun selesai dibuat. Tampaknya bu tani menyukai hasil jerih payah suaminya tersebut. Mereka pun segera bergegas untuk memakaikan kalung tersebut pada leher kambing kesayangannya itu. Tampak dari kejauhan rumah, kambing sedang makan siang bersama teman-temannya yang lain. Melihat pak tani dan bu tani memberikannya sebuah hadiah, ia menjadi sangat senang dan terharu. Ia mengembik seakan mengucapkan terimakasih kepada pak tani dan bu tani. Begitu banyak pesan yang disampaikan oleh mereka kepada kambingnya tersebut, seperti semoga sehat selalu, menjadi kambing penurut, penolong, dan baik hati. Kini dilehernya telah tergantung sebuah kalung indah sebagai lambang cinta dan kasih sayang gembala terhadap peliharaannya. Sungguh mengharukan.


       Ketika pak tani dan bu tani kembali ke rumahnya, kambing bergegas pergi ke sungai untuk minum karena setelah makan tadi, belum sempat ada air yang menghampiri tenggorokannya. Di tengah jalan ia bertemu dengan anjing, burung elang, kancil, dan kerbau yang baru saja selesai mandi atau bahkan minum beberapa teguk air sungai. Maklum pada waktu itu udara sangat panas sehingga banyak hewan yang pergi ke sungai untuk sekedar minum bahkan mandi guna menyegarkan tubuhnya kembali. Seperti biasa kambing pun tak lupa untuk menyapa sahabatnya itu. Begitu pun mereka tak segan untuk membalas sapaan kambing. Anjing yang terheran melihat sesuatu yang terikat pada leher kambing putih itu pun bertanya “Apa yang ada dilehermu itu? Jimatkah atau……”.  “Jangan berpikiran yang aneh-aneh, ini adalah hadiah yang diberikan keluarga tani untukku. Ya.. hari ini aku ulang tahun yang kedua” jawab kambing. Mendengar hal ini mereka pun segera memberikan selamat atas hari ulang tahun kambing ini. 

          Sementara itu kancil masih terheran-heran dengan apa yang baru saja ia dengar dari kambing. “Apa!! Hadiah!! seekor kambing diberikan hadiah oleh manusia dan ulang tahunnya dirayakan? Huh,, hati-hati ada udang di balik batu” seru kancil. Kambing pun menjawab dengan lantang “Aku rasa mereka adalah orang yang baik. Mereka juga sudah kuanggap sebagai kelurgaku sendiri, tak mungkin mereka berniat melakukan hal jahat terhadapku”. “Sudahlah kau tak usah pedulikan kata-kataya, mungkin saja dia iri karena tidak pernah mendapatkan hadiah yang indah sepertimu” tukas kerbau. “Hei lagi pula kambing berhak menerimanya karena ini adalah hari ulang tahunnya , dia juga orang yang baik dan berjasa bagi keluarga tani, jadi tak heran jika mereka membalas kebaikan kambing” tegas elang. “Sudahlah kawan jangan bertengkar aku tak suka melihat kalian seperti ini. Mungkin kancil tak bermaksud menyakiti hatiku” tegas kambing. “hahhahha… tak usah kau sok membelaku aku tak butuh kau apalagi hadiahmu yang jelek itu, tak sudi aku” jawab kancil. “Sudahlah lebih baik kita pergi saja, aku tak mau masalah ini berlanjut dan hanya membuat suasana semakin panas dan tak terkendali” jelas kambing. Kambing, kerbau, dan elang pun segera meninggalkan tempat itu dan menuju pematang sawah. Sedangkan kancil pergi entah kemana. 


          Pada malam hari, kancil memiliki niat jahat untuk menyembunyikan kalung kambing. Akhirnya dengan segala cara yang ia lakukan ia pun mampu menerobos masuk kandang kambing dan mencuri kalung itu. Ternyata ia menyembunyikan kalung tersebut di bawah topi orang-orangan sawah karena ia merasa tempat itu adalah tempat yang sulit terpikirkan oleh para binatang yang lain. Tapi tanpa sepengetahuan kancil, elang yang sedang bertengger pada pohon pisang menyaksikan semua kejadian itu. Ketika kancil sudah pergi jauh, elang berusaha mengambil kalung tersebut di bawah topi orang-orangan sawah, setelah itu ia menyimpannya baik-baik di dalam sarangnya dan berniat akan mengembalikan kalung tersebut esok hari pada kambing. 

           Pada pagi hari kambing terkejut melihat kalungnya hilang dan tidak ada di dalam kandang. Ia sangat sedih karena telah kehilangan hadiah pemberian pak tani kepadanya. Ia pun berusaha untuk mencari kalung tersebut sampai dapat. Binatang lain yang mengetahui kabar ini pun segera berusaha membantu pencarian. Di tengah pencarian, elang pun datang menghampiri kambing, kemudian ia segera mengembalikan kalung kambing dan menceritakan semua kejadian yang ia saksikan tadi malam. Walaupun demikian kambing berusaha untuk memaafkan sikap kancil terhadapnya. Tapi tidak dengan binatang yang lain, mereka semakin geram melihat kelakuan kancil yang selalu mencuri barang yang bukan kepunyaannya. Ya, ini memang kesekian kalinya kancil mencuri dan tak pernah jera dengan hukuman apapun. Rasanya maaf sudah tak pantas untuk diberikan kepada seekor kancil.  

   Binatang lain pun langsung mengatur strategi untuk menangkap kancil. Mereka berpencar di sekitar sawah untuk menangkap sasarannya. Setelah beberapa waktu akhirnya sasaran pun terlihat. Mereka pun mengejar kancil tersebut dan meneriakinya maling. Kancil yang mampu memahami situasi tersebut pun langsung lari ke dalam hutan untuk menyelamatkan diri. Kini ia mulai ketakutan dengan apa yang akan terjadi pada hidupnya. Setelah berlari jauh akhirnya kancil pun berhenti pada satu tempat dimana ia tak bisa melakukan apa-apa. Bukan anjing, kerbau, ataupun elang yang berhasil menangkap kancil melainkan kini kancil dihadapkan pada hewan buas dan berbisa yaitu king cobra


    Kancil pun kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan, ia terjebak pada situasi yang mengerikan. Tak berapa lama rombongan anjing, kerbau, dan elang pun datang. Mereka yang geram dan tidak mampu mengendalikan emosinya pun tidak bersedia untuk menolong kancil. Mereka justru menunggu saat yang tepat untuk melihat kejadian yang tentunya akan membuat mereka senang yaitu terbunuhnya si kancil pencuri. Ular pun kini melancarkan aksinya, dengan tubuhnya yang panjang dan besar ia kemudian melilitkan badannya pada badan kancil. Kancil pun tak berdaya untuk melepaskan lilitan ular tersebut. 


       Tak lama kemudian kambing pun datang di karpet pertempuran itu. Ia pun melihat kancil yang meronta kesakitan dan terlihat pasrah menghadapi semuanya. Ia juga tak lupa meminta maaf kepada kambing atas perbuatan yang telah ia lakukan. Lilitan ular itu tampaknya semakin keras dan mulut ular tampaknya sudah siap untuk menyantap kancil hidup-hidup. Kambing pun teringat dengan janjinya kepada keluarga tani yaitu menjadi kambing yang baik hati dan penolong. Ia pun segera berusaha untuk mencegah perlakuan ular tersebut. “Stop!! Wahai sang ular jangan bunuh dia, dia adalah sahabatku. Akulah yang menyebabkan masalah ini terjadi dan aku tak mampu mengatasinya. Jadi hukum saja aku” cegah kambing. “Baik, jadi kau ingin aku membebaskannya, tapi sebagai timbal baliknya kau harus menggantikan posisinya sebagai santapanku pagi ini. Tampaknya kau lebih besar dan dagingmu lebih empuk” jawab ular. “Apa-apaan kau kambing, kau mau merelakan nyawamu hanya untuk menolong dirinya, seorang pencuri bermuka tembok itu. Kusarankan jangan kambing, kau terlalu baik untuk membebaskan kancil yang kurang ajar itu” seru anjing. “Aku tak mau kehilangan kamu bing, kamu adalah orang baik dan sudah sepantasnya kamu tetap hidup dan mewrnai kehidupan orang disekitarmu” tambah kerbau dan elang. “Sudah-sudah jangan lagi kalian berdebat, sekarang adalah urusanku dan ular ini. “Baiklah ular sekarang lepaskan dia dan aku akan menyerahkan diriku padamu”. “Jangan kambing, kau sudah terlalu banyak menanggung masalahku sekarang biarkan sekarang aku menanggung masalahku sendiri. Aku sangat menyesali semua perbuatanku, aku minta maaf ya bing” tangis kancil. “Sudahlah cil, aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu memintanya. Bagaimanapun kau adalah sahabatku” jawab kambing. 


    Akhirnya kambing pun menyerahkan seluruh hidupnya kepada ular. Sebelum itu kambing berpesan kepada para sahabatnya. “Bagiku kalian bukan hanya sekedar sahabat namun juga saudara kandungku sendiri. Tak peduli darimana asal dan latar belakangmu. Terimakasih karena kalian telah menjadi saksi hidupku. Hanya satu harapanku kalian bisa saling memaafkan satu sama lain. Tak ada dengki, iri, atau bahkan sifat buruk lainnya yang terjadi diantara kalian. Bagiku, kalian adalah kenangan yang tak mudah untuk dilupakan. Sebab ini bukan tentang aku, tentang kamu atau tentang dia, tapi ini tentang kita yaitu sahabat sejati. Kelemahanmu juga kelemahanku dan kita bisa benahi itu dengan cara kekeluargaan. Jadi selamat tinggal sahabatku. Biarlah nyawaku dapat menghentikan permusuhan ini dan kalian dapat mengerti bahwa damai itu indah” tegas kambing. Semua binatang termasuk ular pun menangis mendengar perkataan kambing ini. Mereka menyesali pertengkaran mereka selama ini. Kancil pun semakin mengerti apa arti persahabatan sesungguhnya. “Aku sudah siap ular, sekarang waktunya kau untuk menyantapku”. 


“Tttiiiiddddaaakkkkk……”seru semua binatang. Mereka rasanya tak kuasa menahan tangis melepas kepergian sahabat yang mereka cintai dan kagumi. Di tengah isak tangis para binatang itu, ular pun angkat bicara “Untuk apa aku memakanmu, tampaknya kau harus hidup lebih lama lagi karena masih banyak binatang dan orang lain yang membutuhkan binatang bijak sepertimu. Begitu banyak pelajaran yang kini aku dapatkan darimu kambing. Aku sangat berterima kasih. Oh ya aku punya satu pesan bagi kalian semua para binatang sawah. Hendaklah kamu bersikap layaknya kambing ini, binatang yang sederhana tapi bersahaja” seru ular. Mereka pun menyetujui hal tersebut karena kenyataannya memang benar. Binatang ini tak dapat dipandang sebelah mata. Ia adalah binatang yang rela berkorban bagi sekitarnya. 


Selang beberapa menit setelah ular pergi, merekapun kembali ke tempatnya masing-masing. Sejak saat itu keadaan desa menjadi lebih damai. Tak ada lagi perselisihan dan kedengkian yang mewarnai kehidupan mereka. Justru kedamaian dan kehangatanlah yang kini  menyelimuti suasana hati mereka.



Kamis, 10 Mei 2012

Mengapa jadi gini sih??
pertanyaan itu lah yang sering sekali terlontar dari bibirku ini. Seakan tak pernah menghargai hasil usaha sendiri. Tampaknya orientasi yang berlebihan masih sangat mengakar dalam benakku. Aku ingin sekali menjadi yang terbaik, tapi sayangnya hambatan terus saja menghalangi setiap langkahku. Aku berusaha untuk menghadapinya namun tantangan itu semakin besar. Mereka datang bergerombolan tidak sendiri. Hingga terkadang mereka menang dan berhasil menguasai diriku. Nggak,, nggak bisa seperti ini terus. Perubahan harus segera kulakukan. Tak peduli sebanyak apa rintangan yang akan meghalangi hidupku. Aku akan tetap berjuang untuk meraih citaku. Tak peduli sebanyak apa pun orang mencemooh. Hidupku ini harus beguna dan tak boleh sia-sia. Lihat mereka disana yang membutuhkan diriku dan ilmuku. Aku tidak bisa diam,, hanya memandang dari kejauhan seakan tak bisa melakukan apa-apa bagi mereka. Aku ingin mereka juga maju seperti saya saat ini. Aku ingin mereka juga berhasil meniti masa depan mereka.
huuhhhfftt, bisikan setan selalu saja menghampiri hatikku. Mereka berontak ketika aku ingin belajar. Mereka berontak ketika sesekali aku ingin fokus dan serius. Mengapa mereka jahat bahkan terlalu jahat?
Namun satu hal yang aku sadari bahwa itulah pekerjaan mereka. Mengganggu setiap manusia yang ingin maju. Menghalangi setiap manusia untuk meraih harapannya. Namun sayangnya aku tak selemah itu. Aku tak mau kebebasanku terkekang untuk berkarya demi masa depan bangsaku ini.
_continue_